Tampilkan postingan dengan label Langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Langit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

CINTA LANGIT DAN LAUT

(Repost from Blog : Cermin Hati)

Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama2 Saling menyukai 1 sama lain. Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit laut. Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan “aku cinta padamu” ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun,langit tidak menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari,datang awan begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal. Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 Langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap satu sama lain. Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya,laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya. Tapi tentu saja tidak berhasil.

Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan Langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu. Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan.
Awan terbagi2 menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit. Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih. Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.

Kamu juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit,di situlah mereka sedang bersatu.

PS: Renungkanlah…maka cinta kamu yang selama ini hambar Akan menjadi cinta abadi



 

Kamis, 16 Januari 2014

LANGIT

Langit Biru dari Jendela ruang tamu


 awan putih dilihat dari lantai 2 FKM

Sekarang di Makassar udah hujan melulu. Bangun pagi, pas lagi hujan, pergi pulang kampus pas lagi hujan. mau tidur malam lagi hujan juga. Untuk beberapa situasi, hujan memang menguntungkan. misalnya saat kamu lagi mau tidur, hujan bisa jadi pengantar tidur yang ampuh. atau mungkin suasana hati kamu lagi mellow, kamu bisa meratapi nasib sambil memandang hujan. hahaha.

Tapi buat situasi lain, hujan bisa jadi sangat merepotkan. Jemuran ga kering, mengurangi semangat ke kampus pagi-pagi (padahal mau hujan apa kagak semangat ngampus pagi teuteup level low hahaha0, air tergenang dimana-mana, pohon tumbang.

Bagi gw, hujan ngebuat gw kehilangan langit biru dan awan putih. Ga ada paduan indah antara warna biru dan putih itu yang bisa membuat gw selalu semangat. Pernah, gw dan teman punya pemikiran yang sama kalo langit dan awan itu saling melengkapi. Kalau langit lagi cerah banget, saking cerahnya sampai ga ada awan kelihatan keren, polos, tapi ga ada kehidupan, karena ga ada awan yang menaungi, mengademkan suasana. Jadinya terik banget.

Sebaliknya, kalau langit biru tetap berpasangan denga awan putih mereka akan saling melengkapi. Langit yang tadinya polos dan ga ada kehidupan jadi indah karena adanya awan yang berbagai bentuk sesuai imajinasi yang memandangnya. Mereka berdua tidak bisa sendiri. Berdua jauh lebih baik.

Hahaha, gw jadi curhat colongan gini. Gw ingin suatu hari gw bisa menemukan si ‘langit biru’ yang hidupnya bisa gw hias dengan awan-awan gw.  Aaarghhhh, jadi malu. Ini gw mau cerita tentang cuaca ato curhat hidup gw sih sebenernya? hahaha.


Makassar, 16 Januari 2014


-NSNS-

Senin, 16 Desember 2013

Secangkir Kopi Lagi Untukmu

Mimpiku denganmu memang tak pernah banyak. Hanya berkisar pada kopi, dan bintang di langit. Dua tahun mengenalmu dan mimpi itu masih saja sama.

Sekarang kita mulai bicara tentang mimpi dan cinta dalam hidup masing-masing. Kamu dan aku dengan dia yang masing-masing dari kita tidak pernah kenal. Lalu kita bicara tentang mimpi kita akan masa depan kita bersama orang itu. Kemudian kita diam. Mungkin salah satu dari kita berpikir tentang andai-andai. Seandainya dalam tahun kedua ini hubungan kita tak dihentikan sampai batas sahabat, apa mungkin kita akan bicara tentang masa depan kita bersama-sama? Atau mungkin seandainya jarak tidak sebegitu jauhnya, kita tidak berhenti sebagai sahabat? Tunggu dulu. Siapa yang berpikir andai-andai ini? Mungkin kamu. Mungkin sekali aku. Pikiran bodoh. Dan aku menghentikannya. Segera.

Aku tak pernah bisa menjawab dengan tepat siapa kamu dalam hidupku. Sahabat dan bukan sahabat. Sempat menjadi lawan dan bukan lawan sekaligus. Waktu mengajarkan kita bahwa manusia berubah. Aku dan kamu yang juga manusia ikut terkena imbasnya. Kita berubah. Entah menjadi lebih apa selain lebih tua.

Kadang, tiba-tiba aku merindukanmu. Merasa sedih yang sangat karena kamu tak tergapai. Tapi lebih sering aku mencukupkan diri pada apa yang ada. Sms, telepon, dan sedikit uraian lewat surat elektronik. Dan sejak setahun yang lalu, tetap begitu.

Pertemuan pertama yang mengingatkanku padamu cuma tentang secangkir kopi di tengah dinginnya udara Makassar. Lalu tertawa dan bicara tentang hal-hal yang masih aku ingat dengan jelas hingga hari dimana kamu menjadi bagian hari-hariku. Obrolan singkat dan diskusi tentang pelajaran demi pelajaran jadi bahasan yang paling sering kita ceritakan. Kadang kamu juga senang berbicang denganku tentang sepakbola. Benar, kamu begitu menyukai sepakbola.

Dulu ceritamu tentang pelajaran, bola, film. Sekarang ceritamu bertambah. Langit dan bintang. Tentang bintang di langit yang katanya bisa kamu lihat jelas dari jendela kamar kost-mu yang katanya harus berbagi itu. Tentang langit di ujung negeri yang masih bersih dan membuatmu bisa menikmati bintang. Dan aku harus puas dengan ceritamu. Puas, sambil bermimpi dengan sederhana tentang melihat langit berbintang bersamamu. Berbaring menatap langit, memandang bintang, dan menyadari kecilnya manusia dalam semesta. Melewatkan malam dengan sunyi dan denganmu dalam diam. Mencoba memahami kuasa Dia yang kita sebut Tuhan.

Kemarin ceritamu berhenti di situ. Mungkin memang kamu hentikan di situ. Atau kita yang menghentikannya di situ. Berhenti di situ, kemudian kita mengganti waktu itu untuk bicara soal hidup, dan kehidupan. Kemarin, ceritamu bertambah satu lagi. Tentang masa depan. Tentang mimpi yang tersisa. Bukan mimpi untuk jadi apa atau mimpi untuk bikin apa. Tapi mimpi tentang jadi siapa untuk siapa dan hidup bagaimana. Satu yang kucinta dari ceritamu adalah kamu tidak pernah melepaskan mimpi untuk hidup puas. Untuk hidup yang punya makna.

Sekarang cerita kita berputar tidak jelas. Kopi, bintang, dia, dan mereka. Kemudian mulai bertanya mau apa, mau bagaimana, dan mau sampai kapan. Tapi yang jelas dalam cerita kita tidak ada kita. Yang ada adalah aku dan kamu. Aku dan kamu dengan kehidupan masing-masing. Aku dan kamu yang ada di tempat yang saling berjauhan. Aku dan kamu yang punya dia dalam keseharian. Aku dan kamu yang berubah dari saat bertemu. Berubah karena waktu. Berubah karena kondisi. Berubah karena pengaruh sana sini. Berubah, karena kita manusia.

Aku berhenti bertanya kenapa Tuhan mempertemukanku denganmu. Aku berhenti karena sudah tahu jawabannya. Jawabannya adalah karena aku harus belajar. Dan darimu aku belajar banyak walaupun tidak banyak belajar. Belajar tentang manusia. Belajar tentang repotnya punya dan tidak punya perasaan. Belajar tentang mencintai cinta yang tidak mencintai kembali. Belajar tentang peran masing-masing. Belajar tentang alasan.Tentang alasan kenapa manusia dilahirkan dan dibiarkan hidup oleh Tuhan.

Baiklah, aku sudah selesai. Seperti yang pernah kamu tuliskan di selembar kertas setahun lalu : Tidak ada yang abadi kecuali perubahan.Dan kita sama-sama tahu, perubahan selalu punya konsekuensi. Selamat hidup dengan perubahan.

Dan lagi-lagi, secangkir kopi. Frase ini total mengingatkanku padamu. Mengingatkanku pada kegilaan yang kucintai. Mengingatkanku dengan jelas tentang seorang kamu. Sampai saat ini. Ya, sampai saat ini, ketika kamu sudah merangkul dia yang di sana untuk masa depan. Sampai saat ini, ketika aku telah memohon pada Tuhan untuk memberikan dia yang di sini untuk hidupku.

Terimakasih untuk kopinya.

Makassar, 15 Desember 2013


-NSNS-

Jumat, 21 Juni 2013

LANGIT ITU......

Langit Maros 07062013

Dari dulu gw udah suka langit. Tapi entah sejak kapan persisnya gw suka memandang langit. Meskipun kadang-kadang gw lupa atau ga  sadar untuk ngeliat langit setiap kali berada diluar ruangan, tapi setiap kali gw “sadar” memandang langit, gw pasti sangat menikmatinya. Menikmati pergantian warna dari hitam bertabur bintang, merona menjemput pagi, biru berawan saat siang, dan merona jingga saat senja. Selain suka memandangi pergantian warna langit, gw juga suka memandangi pergantian fenomena langit yang menurut gw seperti mimik wajah. Mendung, cerah, berawan ataupun mengantarkan hujan. 

Langit Samalona 12012011

Dulu pernah ada yang ngomong ke gw “Aryo, saya ga bisa kasih apa-apa di hari ulangtahunmu, tapi lihat ke langit Allah selalu ngasih sesuatu buat kamu, buat saya, buat kita. Langit biru yang indah, salah satu hadiah terindah dari Allah”. Sampai sekarang dia pasti ga nyadar kalo kata-katanya itu terngiang-ngiang di telinga gw, karena atta gw dulu juga pernah berkata hal yang hampir serupa. 

Langit Makassar 09062013

Sadar atau ga, gw sangat menikmati memandangi langit ketika gw berada ditempat yang berbeda. Baik itu langit siang ataupun langit malam. Gw suka banget liat langit malam di kampung kelahiran atta gw di Tombolo' Pao. Keren banget! Ada jutaan bintang disana! Gw juga suka ngeliat langit-langit ditempat lain. , dengan keyakin, meski berada di satu bumi dan di bawah langit yang sama satu tempat dengan tempat lain, punya "warna", "nada", "rasa", "cerita" langit yang berbeda. 

Langit Ulumanda 10062013

Akhir-akhir ini gw sering menjepret langit yang indah kemudian gw share melalui akun jejaring sosial, tapi yah ini semua ga akan seindah bila kalian memandangnya sendiri. Sesekali mendongaklah ke langit, sayang kalau keanggunan langit dilewatin gitu aja. Mungkin memandang langit adalah perkara sepele?, Tapi buat gw untuk membuat hati ini merasa lebih baik kadang yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan hal-hal yang sepele yang sering terlupakan oleh kita.


Langit Pinrang 09062013

Langit Pare Pare 17062013


Langit Mamboro 14062011

Langit Makassar 05082011


Langit Makassar 13062013


Di bawah langit Ibukota Negara, 21 Juni 2013


_NSNS_